Juni, Juni, dan Senin

Gemercik hujan sedari pagi enggan minggir sebentar. Juni mulai kehilangan kesabaran. Tangannya terkepal, langkah kakinya semakin cepat bolak balik di teras. Mulutnya mengerucut dan dahinya berkerut.


“Jangan mencela hujan, Juuun!” tegur Maknya yang seolah tahu apa yang akan dilakukan Juni.


“Iya, Mak. Ngerti, kok!” sahut Juni.


Dua belas jam yang lalu, Juni telah berjanji pada dirinya sendiri untuk berkeliling desa memakai sepeda barunya.
Namun, hujan tak kunjung reda. Semakin deras dan dingin. Juni makin gelisah memikirkan gadis incarannya itu. Bulan Juni yang penuh dengan rinai hujan. Bimbang hati pemuda berwajah sendu itu.


“Pakai jas hujan, kan, bisa Jun,” saran Mak.
“Nggak mungkin, Mak,” sergah Juni.


Senin pekan kedua di bulan Juni. Senyum Juni mengembang sempurna saat melihat langit biru. Ia keluarkan sepeda barunya-Boy-namanya. Diusap-usapkannya kain serbet ke tubuh si Boy.
“Sekarang saatnya, Boy.”


Belum lima langkah ia menuntun sepedanya, hujan datang tanpa peringatan. Juni putar balik dan memilih duduk di teras. Tangannya menepuk-nepuk lantai dengan cepat. Pemuda itu lantas beranjak dan berlari ke dapur. Ia mulai mencari sesuatu.


“Panci mana, Mak?”
“Tuh!” tunjuk Maknya.
“Suthil, Mak, suthil.”
“Nih.” Mak menyodorkan spatula. “Buat apa, Jun?”


Juni sudah berlari melesat ke halaman rumah. Ia pakai panci sebagai pelindung kepala dan mengangkat kedua tangannya. Tangan kanan memegang spatula dan tangan kiri menggenggam. Juni menari berputar-putar.


“Wooo wooo wooo. Berhentilah hujaaan.”


Makin lama, Juni makin blingsatan. Tariannya tak tentu arah. Ia pukulkan spatula itu ke panci yang ada di kepalanya. Mak yang mendengar suara gaduh segera berlari ke depan.


“Juuuuunnn, tobat Juuuunn, tobaaat!” teriak Mak.
Juni menghentikan tariannya.


“Kenapa, Mak? Kan, biar hujannya berhenti.”


“Syirik, Jun! Tobat! Syirik itu Jun!” Mak mencubit lengan anak kesayangannya dengan gemas. “Hujan itu rahmat dari Allah, Jun. Kayak nggak pernah ngaji aja!”


“Iya, cuma main-main aja, Mak,” kilah Juni.


“Jangan diulangi lagi. Dosa Juuun, dosaaa.” Mak menghela napas panjang. “Lagian kenapa sih, Jun, mau sepedaan aja harus banget hari Senin?”


Juni meletakkan panci dan spatula di dekatnya. Kakinya selonjor dengan tubuh yang basah kuyup.


“Soalnya Ningsih tiap Senin kerja di Toko Tak Ada Pilihan, Mak. Jun mau pamerin sepeda ke Ningsih, biar dia lihat.”


“Ningsih anaknya Pak RT?” tanya Mak.


“Iya, kembang desa kita, Mak.”


“Oh, kemarin Mak lihat si Ningsih dibonceng Pandi, anak Pak RW. Katanya mau daftar nikah di KUA,” jawab Mak santai.


“Serius, Mak?” mata Juni melotot.


“Orang sekampung udah pada tau kali, Jun. Lagian si Ningsih mana mau sama kamu yang makannya cuma ikan asin tiap hari.”


Juni mengusap wajahnya yang tak berkeringat. Ada yang patah tapi tak terlihat. Nyeri.

#TemaTantanganMenulisKLIP #TemaTantanganMenulisKLIP2022 #programKLIP2022 #KelasLiterasiIbuProfesional #ibuprofesionalforidonesia

Diterbitkan oleh nararosy

A librocubicularist A full time mom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: